Meteor Itu Bernama Zarate
Tampil baik di tahun pertama seorang pesepakbola bermain di kompetisi yang baru untuknya tidak bisa dilakukan oleh setiap orang. Satu di antara yang langka itu adalah Mauro Zarate.Bersama Goran Pandev, Zarate menjadi motor utama kebangkitan Lazio musim ini. Lima gol dari Zarate, plus jumlah yang sama dari Pandev, untuk sementara menempatkan Lazio di puncak klasemen Seri A.
Namun kali ini lampu sorot diarahkan kepada Zarate yang melakoni musim debutnya di Italia.
Beradaptasi dengan sepakbola Italia bukan hal yang mudah. Sudah banyak nama pemain dengan reputasi besar yang tidak langsung nyetel dengan permainan timnya serta iklim sepakbola di negeri pizza itu.
Ambil contoh Ronaldinho, mantan pemain terbaik dunia yang baru mencetak gol perdananya bagi AC Milan pekan ini. Atau mungkin Julio Baptista, yang bukannya mencetak gol dan mengantar AS Roma menang malah terkapar karena cedera.
Padahal, status Zarate di Lazio pun bukan pemain permanen. Pemuda kelahiran Buenos Aires, Argentina, 18 Maret 1987, itu dipinjam Gli Aquilotti dari klub asal Qatar, Al-Sadd.
Ini adalah kali kedua di mana Zarate berpetualang di Eropa dengan status pinjaman. Sebelumnya, Zarate dipinjamkan ke Bolton Wanderers dari Januari 2008 sampe akhir musim lalu.
Zarate dibeli Al-Sadd dari klub papan atas Argentina, Velez Sarsfield, dengan nilai transfer 20 juta dolar AS (Rp 18 miliar). Penampilannya yang ciamik ketika mengantar Argentina U-20 di Piala Dunia U-20 tahun 2007 membuatnya diminati banyak klub.
Zarate langsung menghentak ketika di pekan pertama Seri A menyumbangkan dua gol ketika Lazio menumbangkan Cagliari 4-1. Gol ketiga dicetak permain bertinggi 176 cm ini ke gawang Sampdoria. Sedang gol keempat dan kelima masing-masing dilesakannya ke jala AC Milan serta Torino.
Pujian pun mengalir untuk Zarate. "Dia masih muda dan masih bisa berkembang. Zarate adalah pilihan saya; saya melihat videonya dan segera membelinya. Dia seorang juara yang hebat," seru Presiden Lazio, Claudio Lotito.
Karir Zarate memang melesat cepat bagai meteor di awal kompetisi. Yang patut diwaspadai adalah jangan sampai Zarate menjadi meteor betulan yang cahayanya hanya bertahan sebentar dan lalu lenyap. Konsistensimu ditunggu, Zarate!
0 komentar:
Posting Komentar